Sabtu, 02 Desember 2017

Makalah Karya ilmiah part 2

DAFTAR ISI


Daftar Isi .....................................................................................................................................I
BAB I PENDAHULUAN
           1.1    Latar Belakang .............................................................................................................. 1
           1.2    Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
           1.3    Tujuan ........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
           2.1    Pengertian Aliran Pendidikan ...................................................................................... 2
           2.2      Aliran klasik dalam pendidikan ................................................................................. 2
            A.      Aliran Empirisme .................................................................................................... 3
              B.      Aliran Nativisme ................................................................................................. 3
              C.      Aliran Naturalisme  ............................................................................................. 4
              D.     Aliran Konvergensi  ............................................................................................. 4
     2.3    Gerakan baru pendidikan dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan di Indonesia.... 4
     2.4  Dua aliran pokok pendidikan di Indonesia .................................................................... 6
             a.  Perguruan Kebangsaan Taman Siswa ...................................................................... 6
             b.  Ruang pendidikan INS di kayutanam ...................................................................... 7
BAB III PENUTUP
            A.    Kesimpulan .................................................................................................................... 9
            B.     Saran .............................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA 

                        BAB I

    PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran penting dalam pendidikan akan membekali tenaga kependidikan dengan wawasan kesejarahan, yakni kemampuan memahami kaitan antara pengalaman-pengalaman masa lampau, tuntutan dan kebutuhan masa kini, serta perkiraan atau antisipasi masa datang. Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orangtuanya.

1.2.     Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian aliran pendidikan ?
2.     Apa aliran/pandangan klasik dalam pendidikan ?
3.   Apa gerakan baru pendidikan yang ada di Indonesia dan apa pengaruhnya ?
4.   Sebutkan dua aliran pokok pendidikan di Indonesia !

1.3.    Tujuan
 Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
 1.   Untuk mengetahui Pengertian dari aliran pendidikan
 2.   Untuk mengetahui pandangan klasik dalam  pendidikan
3.    Untuk mengetahui dua aliran pokok pendidikan Indonesia

BAB II

      PEMBAHASAN

  2.1  Pengertian aliran pendidikan
Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikirn terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat dipahami, perlu aspek dari aliran-alira itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap calon tenaga kependidikan harus memahami berbagai jenis aturan-aturan pendidikan.
Sejak dulu, kini maupun dimasa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan. Seperti bidang-bidang lainya, pemikiran –pemikiran dalam pendidikan itu berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir-pemikir berikutnya, dan karena dialog tersebut akan melahirkan lagi pemikiran-pemikiran baru dan demikian seterusnya. Dalam dunia pendidikan setidaknya terdapat 3 macam aliran pendidikan, yaitu aliaran klasik, aliran modern dan aliran pendidikan pokok di Indonesia.

2.2 Aliran klasik dalam pendidikan
 Aliran klasik ini merupakan pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai pada zaman Yunani kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya, akhirnya berkembang dengan pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Aliran-aliran klasik meliputi aliran, nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi merupakan benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Pandangan  pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat  klasik, yang memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Aliran pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada prosesnya.  Isi pendidikan atau bahan pengajaran diambil dari sari ilmu pengetahuan yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli di bidangnya dan disusun secara logis dan sistematis. 
Perbedaan  pandangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan  pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis.  Aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja dan dengan demikian suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan  untuk mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia. Berikut beberapa aliarn yang termasukkedalam aliran klasik pendidikan:
          Aliran Empirisme
Tokoh utama printis pandangan ini adalah filsuf Inggris bernama  John Locke (1704-1932)  yang   mengembangkan  paham  Rasionalisme pada abad 18. Menurut pandangan Empirisme, pendidikan memegang peranan  yang sangat penting sebab pendidikan menyediakan lingkungan yang sangat ideal kepada anak-anak. Lingkungan itu akan diterima oleh anak sebagai sejumlah pengalaman yang kesemua pengalaman itu telah disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Aliran empirisme dipandang sebagai aliran yang sangat optimis terhadap pendidikan, sebab aliran ini hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Aliran ini masih menganggap manusia sebagai makhluk yang pasif, mudah dibentuk atau direkayasa, sehingga lingkungan pendidikan dapat menentukan segalanya.
         Aliran Nativisme
Tokoh utama  perintis pandangan ini adalah  seorang filsuf  Jerman  Schopenhauer (1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang lahir kedunia sudah memiliki pembawaan atau bakatnya  yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Aliran ini berkeyakinan bahwa manusia yang jahat akan menjadi jahat dan sebaliknya, yang baik akan menjadi baik.   Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak.
         Aliran Naturalisme
Aliran naturalisme dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan  Schopenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Selanjutnya, Rousseaue mengatakan, anak yang terlahir dalam keadaan baik tersebut biarkan berkembang secara alami. Ini artinya bahwa perkembangan anak yang dipengaruhi oleh pendidikan apakah pendidikan dirumah, di sekolah, atau lingkungan masyarakat sebagai urun rembuk orang dewasa malah akan merusak pembawaan anak yang baik. Dengan demikian, menurut Rousseaue agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, anak tersebut harus diserahkan kepada alam.
          Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam  proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu  lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan  lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu.
Gerakan  Baru dalam Pedidikan dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan di Indonesia
1.      Pengajaran Alam Sekitar
Dasar pemikiran yang terkandung di dalam pengajaran alam sekitar adalah peserta didik akan mendapat kecakapan dan kesanggupan baru dalam menghadapi dunia kenyataan. Penjelajahan seseorang dalam menemukan hal-hal baru, baik untuk pengetahuan, olah raga, maupun rekreasi menjadikan program pendidikan alam sekitar dipandang sangat penting. Melalui penjelajahan yang dilakukan, maka sekarang peserta didik, akan menghayati secara langsung tentang keadaan alam sekitar, belajar sambil mengerjakan sesuatu dengan serta merta memanfaatkan waktu senggangnya. Pendidikan alam sekitar ini mudah dilaksanakan di segala jenjang pendidikan.
Konsekuensinya, dalam persiapan perlu dipikirkan tentang biaya ketika akan diadakan penjelajahan seperti halnya biaya transportasi, biaya hidup selama penjelajahan, penginapan dan sebagainya.

2.      Pengajaran Pusat Perhatian (Centres D’interet)
Penemuan adalah Ovide Decroly (1871-1923), seorang dokter perancis mendirikan yayasan untuk anak-anak abnormal yang bertempat dirumahnya pada tahun1901. pada tahun1907 metodenya diterapkan pada anak-anak normal. Pengajaran disusun menurut pusat perhatian anak, yang dinamai centres d’interet. Decroly mencari dan menyelidiki naluri anak dalam pertumbuhannya (secara intrinsik). Naluri yang perlu didapatkan adalah naluri untuk mempertahankan diri,untuk makan, bermain dan bekerja, dari meniru. Berangkat dari naluri tersebut selanjutnya disusun pusat perhatian seperti: untuk makan, untuk berlindung, mempertahankan diri terhadap musuh, dan untuk bekerja. Yang menarik pada pendidikan/ pengajaran Decroly yaitu bahwa anak selalu bekerja sendiri tanpa ditolong dan dilayani.

3.      Sekolah Kerja
George Kerschensteiner (1854-1932) menulis karangan tentang arbeitsshule. Ia seorang guru ilmu pasti yang diangkat sebagai inspektur di Munchen. Pada tahun 1898 ia mengembangkan cita-cita pendidikan, bagi kerschensteiner, tujuan hidup manusia yang tertinggi adalah mengabdi kepada negara. Berhubungan dengan itu kewajiban sekolah yang terpenting ialah menyiapkan peserta didik untuk sesuatu pekerjaan. Jadi yang menjadi pusat tujuan pengajaran adalah kerja untuk menatap masa mendatang. Melalui bekerja, manusia menuju ke lingkungan kebudayaan masyarakatnya. Peserta didik bekerja berkelompok sesuai dengan bagian masing-masing, sehingga menimbulkan tanggung jawab.

4.      Pengajaran Proyek
Proyek pengajaran berarti kegiatan, sedangkan belajar mengandung arti kesempatan untuk memilih, merancang, berlatih, memimpin dan sebagainya. Dalam hal ini penting ialah bahwa peserta didik telah aktif memecahkan persoalan, maka wataknya akan terbentuk. Demikian konsep pemikiran WH Kilpatrick di dalam pengajaran proyek. 

5.      Dua aliran Pokok Pedidikan di Indonesia
a)    Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, ada salah seorang putera Indonesia yang bernama Raden mas Soewardi Soerjaningrat. Ia gemar menulis dengan menggunakan bahasa Belanda yang halus dan mengandung sindiran terhadap pemerintah Belanda, tulisannya bejudul “Alks ik een Nederlander was” yang artinya Andai saja saya seorang Belanda. Dari tulisannya yang dianggap tajam oleh pemerintah Belanda inilah ia dibuang di Negeri Belanda.
Ketika berada di tempat pembuangan beliau merasa bebas dalam menyatakan pendapat-pendapatnya, sedang di tanah air sendiri yang dikuasai oleh pemerintah penjajah Belanda justru kebebasannya terganggu. Dari kecintaannya terhadap pendidikan yang sekaligus merupakan perwujudan dari cita-citanya, maka pacta tanggal 3 juli 1922 di Yogyakarta didirikanlah suatu taman kanak-kanak yang diberi nama Taman Indriya. Kemudian berkembang lagi dan semakin luas hingga seluruh lembaganya diberi nama perguruan Kebangsaan Taman Siswa.
Pada jaman penjajahan Belanda, Taman Siswa bersikap “noncooperative” dan menolak pemberian subsidi. Di dalam melaksanakan konsep pendidikannya Taman Siswa memiliki asas-asas sebagai berikut:
-   Asas merdeka untuk mengatur dirinya sendiri. Hendaknya setiap peserta didik dapat    berkembang menurut kodrat dan bakatnya,namun mereka dididik dengan sistem among atau  tut wuri handayani.
Asas Kebudayaan yang dalam  hal ini kebudayaan Indonesia sendiri.
Asas kerakyatan, pendidikan dan pengajaran harus diberikan kepada seluruh rakyat.
-   Asas kekuatan sendiri (berdikari). Dengan demikian segala pembelanjaan ditutup dengan uang pendapatan sendiri.
-   Asas berhamba kepada anak.
Pada saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, dan dua tahun berikutnya berhasil disusun dasar-dasar Taman Siswa yang dikenal dengan Panca Darma. Kelima dasar yang dimaksud adalah: 
Kemanusiaan , Harus ada cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap seluruh makhluk Allah SWT. Kodrat Hidup, termasuk Kodrat hidup adalah pembawaan.
Kebangsaan, tidak boleh bersifat chauvinistic ( menyombongkan kehebatan bangsa sendiri) dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum manusia.
Kebudayaan, kebudayaan  nasional harus dipelihara. Pendidik harus mengajak peserta didik meresapi jiwa bangsa yang terwujud dalam kebudayaannya.
Kemerdekaan Kebebasan
Ki Hajar Dewantara juga menentukan semboyan bagi kaum pendidik, antara lain: ing ngarso sung tulodho, artinya jika pendidik berada di muka dia berkewajiban memberi teladan kepada para peserta didiknya. Ing madya mangun karso artinya: jika di tengah membangun semangat, berswakarya, dan berkreasi pada peserta didik. Tut wuri handayani artinya jika di belakang pendidik mengikuti dan mengarahkan peserta didik agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
b)   Ruang Pedidikan INS di Kayutanam
Sebuah sekolah lain timbul sebagai reaksi terhadap sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda yaitu INS ( Indonesiche Nederlansce School) di kayutanam, yaitu suatu kota kecil di dekat padang panjang Sumatera Barat. Sekolah ini mempunyai rencana pelajaran dan metode sendiri yang hampir mirip dengan rancangan kerschensteiner dengan  arbeitsschulenya. M. Syafei dengan sekolahnya ingin membentuk pemuda-pemuda Indonesia yang berani tegak sendiri, berusaha sendiri, hidup bebas dan tidak tergantung buat seumur hidupnya pada pemerintah sebagai pegawainya.
Adapun dasar pemikiran INS adalah:
Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menentang intelektualisme,aktif, giat dan punya daya cipta serta dinamis.
Memperhatikan bakat dan lingkungan siswa.
Berpikir secara rasional, bukan secara mistik.
Perlu juga diketahui bahwa ruang pedidikan INS terdiri atas empat tingkatan yaitu:
1) Ruang rendah Sekolah Dasar 7 tahun.
2) Ruang antara tahun (sambungan ruang rendah). Siswa tamatan HIS atau Schakel tidak      langsung dapat diterima pada ruang dewasa, tetapi harus masuk ruang antara lebih   dahulu. 7
3) Ruang dewasa 4 tahun (sambungan ruang antara atau ruang tengah).
4) Ruang masyarakat 1 tahun
Pada semua tingkatan ruang, diberikan 50% mata pelajaran umum dan 50% pelajaran   kejuruan (Zahara Idris 1984:21). Menurut S Purbakawatja (1970:212) M. Syafei menunjukan sifatnya sebagai pendidik yang secara demokratis ingin memberi kesempatan kepada anak tumbuh dan berkembang menurut garis masing-masing.
Sistem ini tidak mendapat tanggapan yang diharapkan dari daerah lain karena terlalu banyak menuntut pengorbanan dari pendidiknya. Mereka harus berani hidup sangat sederhana dan mungkin dalam kekurangan. Keuntungan dari pendidikannya hanya dirasakan secara perorangan.

  BAB III
PENUTUPAN
A.            Kesimpulan
Aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan dalam dunia pendidikan.
Macam-macam Aliran - Aliran Pendidikan
    Aliran klasik pendidikan
a.    Aliran empirisme adalah aliran yang berpendapat bahwa semua pengetahuan yang    diperoleh manusia merupakan hasil dari pengalaman manusia.
b.    Aliran nativisme (aliran pembawaan) adalah aliran yang berpendapat bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh bawaan sejak ia dilahirkan.
c.   Aliran Naturalisme, aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan
d. Aliran konvergensi merupakan aliran pendidikan yang berpendapat bahwa kepribadian       manusia tergantung pada pendidikan, pembawaan, dan lingkungan.
Dua aliran Pokok Pedidikan di Indonesia
   a.    Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
   b.    Ruang Pedidikan INS di Kayutanam

B.  Saran
Demikian makalah ini saya buat, saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat saya butuhkan. Guna perbaikan makalah berikutnya. Dan semoga makalah ini bergunauntuk kita semua. Aminn







9
DAFTAR PUSTAKA

Sukardjo, Dr.M .Dkk. 2009. Landasan pendidikan konsep dan aplikasinya. Jakarta: Rajawali           Pers.
Tirtarahardja umar, Prof.Dr. Dkk. 2012. Pengantar pendidikan. Jakarta: Rineka cipta.
Zahara, Idris. 1984 . Aliran-aliran pendidikan. Depok : Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar